NASIONAL, -- Mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026). Kondisi ini terjadi seiring indeks dolar AS yang kembali menguat dan bertahan di level tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv terhadap 10 mata uang Asia, tercatat delapan mata uang melemah terhadap dolar AS, satu mata uang menguat, dan satu mata uang bergerak stagnan.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang mengalami tekanan cukup dalam. Pada perdagangan kemarin, mata uang Garuda tercatat melemah 0,36% ke posisi Rp17.905 per dolar AS. Pelemahan ini membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan paling besar dialami baht Thailand yang turun 1,46% ke posisi THB 33,31 per dolar AS dan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.
Sementara itu, peso Filipina turut melemah sebesar 0,96% ke posisi 61,23 per dolar AS. Dolar Taiwan juga bergerak di zona negatif setelah terkoreksi 0,55% ke TWD 31,85 per dolar AS.
Dolar Singapura tercatat melemah 0,22% ke SGD 1,296 per dolar AS, sedangkan yuan China turun 0,43% ke level CNY 6,798 per dolar AS. Yen Jepang ikut terkoreksi 0,28% ke posisi JPY 161,73 per dolar AS.
Berbeda dengan mata uang lainnya, dong Vietnam bergerak stabil di level VND 26.245 per dolar AS. Adapun ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan performa terbaik di Asia setelah menguat 1,19% ke posisi MYR 4,005 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah tipis 0,07% menjadi 101,357 pada perdagangan kemarin. Meski demikian, pelemahan tersebut belum cukup membawa dolar AS keluar dari area penguatan.
Sebelumnya, DXY sempat menjauh dari posisi terkuat sejak Mei 2025. Namun secara mingguan, dolar AS masih berada dalam tren penguatan selama dua pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari.
Penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS yang cenderung lebih ketat. Pasca rapat FOMC pekan lalu, pasar melihat adanya perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan kawasan lain, terutama Eropa.
Analis Capital Economics menilai dolar AS memang mengalami koreksi terbatas setelah reli pasca-FOMC. Namun, perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan Eropa dinilai masih membuka peluang penguatan lanjutan bagi greenback pada paruh kedua 2026.
“Setelah kenaikan tajam menyusul rapat FOMC pekan lalu, dolar AS sedikit melemah hari ini dan mungkin akan jeda dalam waktu dekat,” tulis analis Capital Economics dalam risetnya, dikutip dari CNBC Indonesia.
Dari sisi data ekonomi, inflasi AS kembali menjadi perhatian pasar. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi utama pilihan The Federal Reserve (The Fed), tercatat naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026. Kenaikan ini sesuai dengan ekspektasi ekonom dan dipengaruhi lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Sejumlah pejabat The Fed juga menyampaikan pandangan yang beragam. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menilai terdapat sedikit perbaikan pada inflasi sektor jasa, namun tekanan harga inti masih dinilai terlalu tinggi.
Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan tekanan inflasi diperkirakan akan mereda sepanjang tahun ini, meskipun level inflasi saat ini masih tergolong tinggi.
Komentar para pejabat The Fed tersebut turut meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 69% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat yang berakhir 29 Juli, meningkat dari 65,8% pada sehari sebelumnya.***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar